[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/238278041" params="auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="450" iframe="true" /]
[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/297548594" params="auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="450" iframe="true" /]
[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/299448025" params="auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="450" iframe="true" /]

Pages

Selasa, 02 Mei 2017

Kebutuhan oksigenasi




 1. Definisi kebutuhan oksigenasi.
Konsep dasar oksigenasi.
Oksigenasi adalah proses penambahan O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika). Oksigen (O2) merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolism sel. Sebagai hasilnya,terbentuklah karbon dioksida,energy,dan air. Akan tetapi,penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel.
Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow. Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam proses metabolism tubuh. Kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung lama akan terjadi kematian. Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan adalah sistem pernafasan,persyarafan,dan kardiovaskuler.
Kapasitas (daya muat) udara dalam paru-paru adalah 4.500-5.000 ml (4,5-51). Udara yang diperoses dalam paru-paru hanya sekitar 10% (kurang lebih 500 ml),yaitu yang dihirup (inspirasi) dan yang dihembuskan (ekspirasi) pada pernafasan biasa.

2. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi.
Sistem pernapasan manusia memiliki organ-organ pernapasan yang menunjang proses pernapasan. Organ-organ pernapasan tersebut memiliki struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Organ-organ pernapasan manusia terdiri atas hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan alveous. Bagaimanakah struktur dan fungsi dari masing-masing organ pernapasan tersebut yang berperan dalam proses oksigenasi ? Perhatikan penjelasan berikut.

a. Organ Pernapasan Hidung
            Hidung merupakan alat pernapasan pertama yang dilalui oleh udara. Ujung hidung ditunjang oleh tulang rawan dan pangkal hidung ditunjang oleh tulang nasalis. Kedua tulang hidung menghubungkan rongga hidung dengan atmosfer untuk mengambil udara. Rongga hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis pipih dengan rambut-rambut kasar. Rambut-rambut kasar tersebut berfungsi menyaring debu-debu kasar. Rongga hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang memiliki sel goblet. Sel goblet merupakan sel penghasil lendir yang berfungsi menyaring debu, melekatkan kotoran pada rambut hidung, dan mengatur suhu udara pernapasan. Sebagai indra pembau, pada atap atau rongga hidung terdapat lobus olfaktorius yang mengandung sel-sel pembau. Perjalanan udara memasuki paru-paru dimulai ketika udara melewati lubang hidung. Di lubang hidung, udara disaring oleh rambut-rambut di lubang hidung. Udara juga menjadi lebih hangat ketika melewati rongga hidung bagian dalam. Di rongga hidung bagian dalam, terdapat juga ujung-ujung saraf yang dapat menangkap zat-zat kimia yang terkandung dalam udara sehingga kita mengenal berbagai macam bau. Ujung-ujung saraf penciuman tersebut kemudian akan mengirimkan impuls ke otak.

b. Organ Pernapasan Faring.
            Setelah melalui rongga hidung, udara akan melewati faring. Faring adalah percabangan antara saluran pencernaan (esofagus) dan saluran pernapasan (laring dan trakea) dengan panjang kurang lebih 12,5–13 cm. Faring terdiri atas tiga bagian, yakni nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Faring merupakan pertemuan antara saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Oleh karena itu, ketika menelan makanan, suatu katup (epiglotis) akan menutup saluran pernapasan (glotis) sehingga makanan akan masuk ke saluran pencernaan. Pada percabangan ini, terdapat klep epiglotis yang mencegah makanan memasuki trakea.

c. Laring
            Setelah melewati faring, udara akan menuju laring. Laring sering disebut sebagai kotak suara karena di dalamnya terdapat pita suara. Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh sembilan tulang rawan. Salah satu dari sembilan tulang rawan tersebut adalah tulang rawan tiroid yang berbentuk menyerupai perisai. Pada laki-laki dewasa, tulang rawan tiroid lebih besar daripada wanita sehingga membentuk apa yang disebut dengan jakun.

d. Organ Pernapasan Trakea.
            Dari faring, udara melewati laring, tempat pita suara berada. Dari laring, udara memasukitrakea. Trakea disebut juga “pipa angin” atau saluran udara. Trakea memiliki panjang kurang lebih 11,5 cm dengan diameter 2,4 cm. Trakea tersusun atas empat lapisan, yaitu lapisan mukosa, lapisan submukosa, lapisan tulang rawan, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri atas sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang mengandung sel goblet penghasil lendir (mucus). Silia dan lendir berfungsi menyaring debu atau kotoran yang masuk. Lapisan submukosa terdiri atas jaringan ikat. Lapisan tulang rawan terdiri atas kurang lebih 18 tulang rawan berbentuk huruf C. Lapisan adventitia terdiri atas jaringan ikat. Dinding trakea dilapisi oleh epitel berlapis banyak palsu bersilia. Epitel ini menyekresikan lendir di dinding trakea. Lendir ini berfungsi menahan benda asing yang pada membran sel epitel.

e. Bronkus dan Bronkiolus.
            Setelah melalui trakea, saluran bercabang dua. Kedua cabang tersebut dinamakan bronkus. Setiap bronkus terhubung dengan paru-paru sebelah kanan dan kiri. Bronkus bercabang-cabang lagi, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus. Dinding bronkus juga dilapisi lapisan sel epitel selapis silindris bersilia. Di sekitar alveolus terdapat kapiler-kapiler pembuluh darah. Dinding kapiler pembuluh darah tersebut sangat berdekatan dengan alveolus sehingga membentuk membran respirasi yang sangat tipis. Membran yang tipis ini memungkinkan terjadinya difusi antara udara alveolus dan darah pada kapiler-kapiler pembuluh darah. Bronkus, bronkious, dan alveolus membentuk satu struktur yang disebut paru-paru.
            Paru-paru manusia terdiri dari sekitar 300 juta alveoli, yang merupakan kantung berbentuk cangkir dikelilingi oleh jaringan kapiler. Sel darah merah melewati kapiler dalam file tunggal, dan oksigen dari setiap alveolus memasuki sel darah merah dan mengikat hemoglobin. Selain itu, karbon dioksida yang terkandung dalam plasma dan sel darah merah meninggalkan kapiler dan memasuki alveoli ketika napas diambil. Kebanyakan karbon dioksida mencapai alveoli sebagai ion bikarbonat, dan sekitar 25 persen saja terikat longgar pada hemoglobin.

e. Alveolus.
            Bronkiolus bermuara pada alveoli (tunggal: alveolus), struktur berbentuk bola-bola mungil yang diliputi oleh pembuluh-pembuluh darah. Epitel pipih yang melapisi alveoli memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat oksigen dari udara dalam rongga alveolus.
            Ketika seseorang menghirup, otot-otot tulang rusuk dan diafragma berkontraksi, sehingga meningkatkan volume rongga dada. Peningkatan ini menyebabkan penurunan tekanan udara di rongga dada, dan udara bergegas ke alveoli, memaksa mereka untuk memperluas dan mengisi. Paru-paru pasif memperoleh udara dari lingkungan dengan proses ini. Selama pernafasan, otot-otot tulang rusuk dan diafragma rileks, daerah rongga dada berkurang, dan meningkatkan tekanan udara internal. Udara yang dikompresi memaksa alveoli untuk menutup, dan udara mengalir keluar.
            Aktivitas saraf yang mengontrol pernapasan muncul dari impuls diangkut oleh serabut saraf yang lewat ke dalam rongga dada dan berakhir pada otot tulang rusuk dan diafragma. Dorongan ini diatur oleh jumlah karbon dioksida dalam darah:  tinggi konsentrasi karbon dioksida menyebabkan peningkatan jumlah impuls saraf dan tingkat pernapasan yang lebih tinggi.

3. Proses oksigenasi.
            Bernafas/pernafasan  merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
 Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :

a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru.
              Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
     Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.

Didalam literature yang lain dikatan bahwa proses oksigenasi terbagi menjadi 4 bagian :
1.    Ventilasi : Proses masuknya udara melalui hidung.
2.   Difusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan o2 yang terjadi di membrane alveoli kapiler.
3.   Transfortasi : Proses penyebaran o2 ke seluruh tubuh.
4.   Perfusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan co2 yang terjadi di kapiler.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi.






Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.
1. Lingkungan
Pada lingkungan yang panas tubuh berespon dengan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer, sehingga darah banyak mengalir ke kulit. Hal tersebut  mengakibatkan panas banyak dikeluarkan melalui kulit. Respon demikian menyebabkan curah jantung meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat. Sebaliknya pada lingkungan yang dingin, pembuluh darah mengalami konstriksi dan penurunan tekanan darah sehingga menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen.
Pengaruh lingkungan terhadap oksigen juga ditentukan oleh ketinggian tempat. Pada tempat tinggi tekanan barometer akan turun, sehingga tekana oksigen juga turun. Implikasinya, apabila seseorang berada pada tempat yang tinggi, misalnya pada ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut, maka tekanan oksigen alveoli berkurang. Ini menindikasikan kandungan oksigen dalam paru-paru sedikit. Dengan demikian, pada tempat yang tinggi kandungan oksigennya berkurang. Semakin tinggi suatu tempat maka makin sedikit kandungan oksigennya, sehingga seseorang yang berada pada tempat yang tinggi akan mengalami kekurangan oksigen.
Selain itu, kadar oksigen di udara juga dipengaruhi oleh polusi udara. Udara yang dihirup pada lingkungan yang mengalami polusi udara, konsentrasi oksigennya rendah. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara optimal. Respon tubuh terhadap lingkungan polusi udara diantaranya mata perih, sakit kepala, pusing, batuk dan merasa tercekik.
2. Latihan
            Latihan fisik atau peningkatan aktivitas dapat meningkatkan denyut jantung dan respirasi rate sehingga kebutuhan terhadap oksigen semakin tinggi.
3. Emosi
Takut, cemas, dan marah akan mempercepat denyut jantung sehingga kebutuhan oksigen meningkat.

4. Gaya Hidup
Kebiasaan merokok akan memengaruhi status oksigenasi seseorang sebab merokok dapat memperburuk penyakit arteri koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh darah darah koroner. Akibatnya, suplai darah ke jaringan menurun.
5. Status Kesehatan
Pada orang sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi berfungsi dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat. Sebaliknya, orang yang mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernapasan dapat mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.
Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.


5. Jenis pernafasan.
Berdasarkan organ yang terlibat dalam peristiwa inspirasi dan ekspirasi, orang sering menyebut pernapasan dada dan pernapasan perut. Sebenarnya pernapasan dada dan pernapasan perut terjadi secara bersamaan. Untuk lebih jelasnya perhatikan uraian berikut.
1.      Pernapasan dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1.    Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2.   Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
·         Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut:
Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal) berkontraksi –> tulang rusuk terangkat (posisi datar) –> Paru-paru mengembang –> tekanan udara dalam paru-paru menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar –> udara luar masuk ke paru-paru.
·         Mekanisme ekspirasi pernapasan dada adalah sebagai berikut:
Otot antar tulang rusuk relaksasi –> tulang rusuk menurun –> paru-paru menyusut –> tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara luar –> udara keluar dari paru-paru.

2. Pernapasan perut
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1.    Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2.   Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

·         Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
sekat rongga dada (diafraghma) berkontraksi –> posisi dari melengkung menjadi mendatar –> paru-paru mengembang –> tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar –> udara masuk
·         Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
otot diafraghma relaksasi –> posisi dari mendatar kembali melengkung –> paru-paru mengempis –> tekanan udara di paru-paru lebih besas dibandingkan tekanan udara luar –> udara keluar dari paru-paru.

6. Pengukuran fungsi paru.
Tes fungsi paru (PFTs) – seperti namanya – tes yang dirancang untuk mengukur dan menilai fungsi paru-paru. PFTs awalnya alat-alat penelitian, yang tersedia hanya di pusat-pusat rumah sakit pendidikan. Sekarang alat-alat ini tersedia secara luas dan seringkali digunakan karena manfaatnya dalam diagnosis dan pengobatan asma. Perlu diingat ketika Anda membaca hasil pemeriksaan pada tes PFT bahwa kelainan fungsi paru yang terlihat pada asma aktif adalah reversibel.
Istilah PFTs digunakan untuk menggambarkan secara kolektif beberapa tes khusus yang berbeda dari fungsi paru-paru.
7. Masalah kebutuhan oksigen.
Masalah kebutuhan oksigen mengacu pada frekuensi,volume,irama,dan usaha pernapasan.pola napas yang normal ditandai dengan pernapasan yang tenang,berirama,tanpa usaha. Perubahan pola napas yng sering terjadi sebagai berikut :
a. Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhanoksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen di sel, sehingga dapat memunculkan tanda sepertikulit kebiruan (sianosis). 

b. Perubahan Pola Pernapasan
1. Takipnea, merupakan pernapasan dengan frekuensi lebih dari 24kali per menit. Proses ini terjadi karena paru-paru dalam keadaanatelektaksis atau terjadi emboli.
2. Bradipnea, merupakan pola pernapasan yang lambat abnormal, ±10 kali per menit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan peningkatan tekanan intracranial yang di sertai narkotik atausedatif.
3. Hiperventilasi, merupakan cara tubuh mengompensasimetabolisme tubuh yang melampau tinggi dengan pernapasan lebihcepat dan dalam, sehingga terjadi peningkatan jumlah oksigendalam paru-paru. Proses ini di tandai adanya peningkatan denyutnadi, napas pendek, adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasiCO2 dan lain-lain.
4. Kussmaul, merupaka pola pernapasan cepat dan dangkal yangdapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolic
5. Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkankarbondioksida dengan cukup pada saat ventilasi alveolar, sertatidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan oksigen.
6. Dispnea,  merupakan sesak dan berat saat pernapasan. Hal ini dapatdisebabkan oleh perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja berat/berlebuhan, dan pengaruh psikis.
7. Ortopnea, merupakan kesulitan bernapas kecuali pada posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yangmengalami kongesif paru-paru.
8. Cheyne stokes, merupakan siklus pernapasan yang amplitudonyamula-mula nik kemudian menurun dan berhenti, lalu pernapasandimulai lagi dari siklus baru. Periode apnea berulang secara teratur.
9. Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan dimana dinding paru-paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal. Sering ditemukan pada keadaan atelektasis.
10. Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengancheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
11. Stridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan. Pada umumnya ditmukan pada kasus spasme trachea atau obstruksi laring

c. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas merupakan suatu kondisi pada induvidudengan pernapasan yang mengalami ancaman, terkait denganketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dpat disebabkan olehsecret yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi;immobilisasi; statis skreasi; serta batuk tidak efektif karena penyakit persarafan seperti cerebro vascular accident (CVA), akibat efek  pengobatan sedative, dan lain-lain.Tanda klinis 
1)Batuk tidak efektif atau todak ada
2)Tidak mampu mengelurakan secret di jalan napas
3)Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
4)Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan tidak normal

d. Pertukaran gas

Pertukaran gas merupakan suatu kondisi pada individu yangmengalami penurunan gas, baik oksigen maupun karbondioksida, antar alveoli paru-paru dan system vascular. Hal ini dapat disebabkan olehsecret yang kental atau immobilisasi akibat system saraf; depresisusunan saraf pusat; atau penyakit radang pada paru-paru. Terjadinyagangguan dalam pertukaran gas ini menunjukkan bahwa penurunankapasitas difusi dapat menyebabkan pengangkutan O2 dari paru-paruke jaringan terganggu, anemia dengan segala macam bentuknya,keracunan CO2, dan terganggunya aliran darah. Penurunan kapasitasdifusi tersebut antara lain disebabkan oleh menurunnya luas permukaan difusi, menebalnya membrane alveolar kapiler, dan rasioventilasi perfusi yang tidak baik.Tanda klinis :

1. Dispea pada usaha napas
2. Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
3. Agistasi
4. Lelah, alergi
5. Meningkatnya tahanan vascular paru-paru
6. Menurunnya saturasi oksigen dan meningkatnya PaCO2
7. Sianosis

8. Tindakan keperawatan.
1. Latihan Napas
Latihan napas  merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara petukaran gas, mencegah atelektaksis , meningkatan efisiensi batuk, dan dapat digunakan untuk mengurangi stres.
Prosedur Kerja :
1).    Cuci tangan
2).    Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3).    Atur posisi ( duduk atau tidur terlentang )
4).    Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup.
5).    Kemudian anjurkan untuk menahan napas selama 1 -1,5 detik dan di susun dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut mecucu atau seperti orang meniup.
6).    Catat respons yang terjadi
7).    Cuci tangan

2. Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan membersihkan laring , trakea, dan bronkiolus dari sekret atau benda asing di jalan napas.
Prosedur kerja :
1).   Cuci tangan
2).   Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3).   Atur posisi pasien dengan duduk di tepi tempat tidur membungkuk ke depan
4).   Anjurkan untuk menarik napas secara pelan dan dalam dengan menggunakan pernapasan diafragma.
5).   Setelah itu tahan napas kurang lebih 2 detik
6).   Batukkan 2 kali dengan mulut terbuka
7).   Tarik napas dengan ringan
8).   Istirahat
9).   Catat respons yang terjadi
10). Cuci tangan.

3. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan oksigen kedalam paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen.Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu melalui kanul , nasal, dan masker dengan tujuan memenuhi kebutuhan oksigen oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Alat dan Bahan :
a)      Tabung oksigen lengkap dengan flowmeterdan humidifier
b)      Nasal kateter , kanula atau masker
c)      Vaselin/ lubrikan atau pelumas (jelly)


Prosedur kerja:
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Cek flowmeter dan humidifier
4.      Hidupkan tabung oksigen
5.      Atur posisi pasien semifowler atau sesuai dengan kondisi pasien
6.      Berikan oksigen melalui kanula atau masker
7.      Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga , setelah itu beri lubrikan dan masukkan .
8.      Catat pemberian dan lakukan observasi.
9.      Cuci tangan.

4.      Fisioterapi Dada
       Fisioterapi dada merupakan tindakan keperawatan dengan melakukan postural drainage , clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sisitem permapasan dengan tujuan meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan membersihkan jalan napas.
Alat dan Bahan
1.    Pot sputum berisi desinfektan
2.    Kertas tisu
3.    2 balok tempat tidur ( untuk postural drainage )
4.    1 bantal ( untuk postural drainage )

Prosedur kerja:

Postural drainage
1.        Cuci tangan
2.        Jelaskan prosedur yang di lakukan
3.        Miringkan ke kiri (untuk membersihkan bagian paru kanan )
4.        Miringkan ke kanan ( untuk membersihkan bagian paru kiri )
5.        Ke kiri dan tubuh bagian belakang kanann disokong dengan satu   bantal ( untuk membersihkan bagian lobus tengah )
6.        Lakukan postural drainage kurang lebih 10 – 15 menit
7.        Observasi tanda vital selama prosedur
8.        Setelah pelaksanaan postural drainage dilakukan clopping , vibrating , dan suction.
9.        Lakukan hingga lendir bersih.

Clapping
1.        Cuci tangan.
2.         Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.        Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4.        Lakukan clapping  dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk.
5.        Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot sputum.
6.        Lakukan hingga lendir bersih.
7.        Catat respons yang terjadi.
8.        Cuci tangan

Vibrating
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.      Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4.      Lakukan vibrating dengan cara anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan minta pasien untuk mengeluarkan napas perlahan-lahan.
Kedua tangan perawat diletakkan diatas bagian samping depan dari cekungan iga kemudian getarkan secara berlahan-lahan dan lakukan berkali-kali hingga pasien ingin membatukkan.
5.      Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot sputum.
6.      Lakukan hingga lendir bersih.
7.      Catat respons yang terjadi.
8.      Cuci tangan.

5.      Penghisapan Lendir
Penghisapan lendir (suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara sendiri dengan melakukan penghisapan (suction) untuk membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigenesi.

Alat dan Bahan :
1.      Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.
2.      Kateter penghisap lendir.
3.      Pinset steril.
4.      Sarung tangan steril.
5.      Dua buah kom berisi larutan aquades atau NaCl 0,9 % dan berisi larutan desinfektan.
6.      Kassa steril.
7.      Kertas tisu.

Prosedur Kerja
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.      Atur posisi pasien dengan posisi terlentang dengan kepala miring kearah perawat.
4.      Gunakan sarung tangan.
5.      Hubungkan kateter penghisap dengan selang panghisap.
6.      Hidupkan mesin penghisap.
7.      Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquades atau NaCl 0,9 % untuk mencegah trauma mukosa.
8.      Masukkan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
9.      Tarik dengan memutar kateter penghisap sekitar dari 3-5 detik.
10.  Bilas kateter dengan aquades atau NaCl 0,9 %.
11.  Lakukan hingga lendir bersih.
12.  Catat respons yang terjadi.
13.  Cuci tangan


0 komentar:

Posting Komentar