1. Definisi kebutuhan oksigenasi.
Konsep dasar
oksigenasi.
Oksigenasi adalah proses penambahan O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika).
Oksigen (O2) merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat
dibutuhkan dalam proses metabolism sel. Sebagai hasilnya,terbentuklah karbon
dioksida,energy,dan air. Akan tetapi,penambahan CO2 yang melebihi batas normal
pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel.
Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut
hierarki Maslow. Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen
sangat berperan dalam proses metabolism tubuh. Kebutuhan oksigen dalam tubuh
harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang maka
akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung
lama akan terjadi kematian. Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan
kebutuhan adalah sistem pernafasan,persyarafan,dan kardiovaskuler.
Kapasitas (daya muat) udara dalam paru-paru adalah 4.500-5.000 ml (4,5-51).
Udara yang diperoses dalam paru-paru hanya sekitar 10% (kurang lebih 500
ml),yaitu yang dihirup (inspirasi) dan yang dihembuskan (ekspirasi) pada
pernafasan biasa.
2. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi.
Sistem pernapasan manusia memiliki organ-organ
pernapasan yang menunjang proses pernapasan. Organ-organ pernapasan tersebut
memiliki struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Organ-organ pernapasan manusia
terdiri atas hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan alveous. Bagaimanakah
struktur dan fungsi dari masing-masing organ pernapasan tersebut yang berperan dalam proses
oksigenasi ? Perhatikan penjelasan berikut.
a. Organ
Pernapasan Hidung
Hidung merupakan alat pernapasan pertama yang dilalui oleh udara. Ujung hidung
ditunjang oleh tulang rawan dan pangkal hidung ditunjang oleh tulang nasalis.
Kedua tulang hidung menghubungkan rongga hidung dengan atmosfer untuk mengambil
udara. Rongga hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis pipih dengan rambut-rambut
kasar. Rambut-rambut kasar tersebut berfungsi menyaring debu-debu kasar. Rongga
hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang memiliki sel
goblet. Sel goblet merupakan sel penghasil lendir yang berfungsi menyaring
debu, melekatkan kotoran pada rambut hidung, dan mengatur suhu udara
pernapasan. Sebagai indra pembau, pada atap atau rongga hidung terdapat lobus
olfaktorius yang mengandung sel-sel pembau. Perjalanan udara memasuki paru-paru
dimulai ketika udara melewati lubang hidung. Di lubang hidung, udara disaring
oleh rambut-rambut di lubang hidung. Udara juga menjadi lebih hangat ketika
melewati rongga hidung bagian dalam. Di rongga hidung bagian dalam, terdapat
juga ujung-ujung saraf yang dapat menangkap zat-zat kimia yang terkandung dalam
udara sehingga kita mengenal berbagai macam bau. Ujung-ujung saraf penciuman
tersebut kemudian akan mengirimkan impuls ke otak.
b. Organ
Pernapasan Faring.
Setelah melalui rongga hidung, udara akan melewati faring. Faring adalah
percabangan antara saluran pencernaan (esofagus) dan saluran pernapasan (laring
dan trakea) dengan panjang kurang lebih 12,5–13 cm. Faring terdiri atas tiga
bagian, yakni nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Faring merupakan
pertemuan antara saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Oleh karena itu,
ketika menelan makanan, suatu katup (epiglotis) akan menutup saluran pernapasan
(glotis) sehingga makanan akan masuk ke saluran pencernaan. Pada percabangan
ini, terdapat klep epiglotis yang
mencegah makanan memasuki trakea.
c. Laring
Setelah melewati faring, udara akan menuju laring. Laring sering disebut
sebagai kotak suara karena di dalamnya terdapat pita suara. Laring merupakan
suatu saluran yang dikelilingi oleh sembilan tulang rawan. Salah satu dari
sembilan tulang rawan tersebut adalah tulang rawan tiroid yang berbentuk
menyerupai perisai. Pada laki-laki dewasa, tulang rawan tiroid lebih besar
daripada wanita sehingga membentuk apa yang disebut dengan jakun.
d. Organ
Pernapasan Trakea.
Dari faring, udara melewati laring, tempat pita suara berada. Dari laring,
udara memasukitrakea. Trakea disebut juga “pipa angin” atau saluran
udara. Trakea memiliki panjang kurang lebih 11,5 cm dengan diameter 2,4 cm.
Trakea tersusun atas empat lapisan, yaitu lapisan mukosa, lapisan submukosa,
lapisan tulang rawan, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri atas
sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang mengandung sel goblet penghasil
lendir (mucus). Silia dan lendir berfungsi menyaring debu atau kotoran yang
masuk. Lapisan submukosa terdiri atas jaringan ikat. Lapisan tulang rawan
terdiri atas kurang lebih 18 tulang rawan berbentuk huruf C. Lapisan adventitia
terdiri atas jaringan ikat. Dinding trakea dilapisi oleh epitel berlapis banyak
palsu bersilia. Epitel ini menyekresikan lendir di dinding trakea. Lendir ini
berfungsi menahan benda asing yang pada membran sel epitel.
e. Bronkus dan
Bronkiolus.
Setelah melalui trakea, saluran bercabang dua. Kedua cabang tersebut
dinamakan bronkus. Setiap bronkus terhubung
dengan paru-paru sebelah kanan dan kiri. Bronkus bercabang-cabang lagi, cabang
yang lebih kecil disebut bronkiolus. Dinding
bronkus juga dilapisi lapisan sel epitel selapis silindris bersilia. Di sekitar
alveolus terdapat kapiler-kapiler pembuluh darah. Dinding kapiler pembuluh
darah tersebut sangat berdekatan dengan alveolus sehingga membentuk membran
respirasi yang sangat tipis. Membran yang tipis ini memungkinkan terjadinya
difusi antara udara alveolus dan darah pada kapiler-kapiler pembuluh darah.
Bronkus, bronkious, dan alveolus membentuk satu struktur yang disebut paru-paru.
Paru-paru manusia terdiri dari sekitar 300 juta alveoli, yang merupakan kantung
berbentuk cangkir dikelilingi oleh jaringan kapiler. Sel darah merah melewati
kapiler dalam file tunggal, dan oksigen dari setiap alveolus memasuki sel darah
merah dan mengikat hemoglobin. Selain itu, karbon dioksida yang terkandung
dalam plasma dan sel darah merah meninggalkan kapiler dan memasuki alveoli
ketika napas diambil. Kebanyakan karbon dioksida mencapai alveoli sebagai ion
bikarbonat, dan sekitar 25 persen saja terikat longgar pada hemoglobin.
e. Alveolus.
Bronkiolus bermuara pada alveoli (tunggal: alveolus), struktur berbentuk
bola-bola mungil yang diliputi oleh pembuluh-pembuluh darah. Epitel pipih yang
melapisi alveoli memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat
oksigen dari udara dalam rongga alveolus.
Ketika seseorang menghirup, otot-otot tulang rusuk dan diafragma berkontraksi,
sehingga meningkatkan volume rongga dada. Peningkatan ini menyebabkan penurunan
tekanan udara di rongga dada, dan udara bergegas ke alveoli, memaksa mereka
untuk memperluas dan mengisi. Paru-paru pasif memperoleh udara dari lingkungan
dengan proses ini. Selama pernafasan, otot-otot tulang rusuk dan diafragma
rileks, daerah rongga dada berkurang, dan meningkatkan tekanan udara internal.
Udara yang dikompresi memaksa alveoli untuk menutup, dan udara mengalir keluar.
Aktivitas saraf yang mengontrol pernapasan muncul dari impuls diangkut oleh
serabut saraf yang lewat ke dalam rongga dada dan berakhir pada otot tulang
rusuk dan diafragma. Dorongan ini diatur oleh jumlah karbon dioksida dalam
darah: tinggi konsentrasi karbon dioksida menyebabkan peningkatan jumlah
impuls saraf dan tingkat pernapasan yang lebih tinggi.
3. Proses oksigenasi.
Bernafas/pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu
dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang
(ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke
paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru
tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada
inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah.
Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara
alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada
gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat
mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara
alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah
ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke
kapiler.
Oksigen perlu
ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 %
oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke
jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan
plasma dan sel-sel.
Didalam
literature yang lain dikatan bahwa proses oksigenasi terbagi menjadi 4 bagian :
1.
Ventilasi : Proses masuknya udara melalui hidung.
2.
Difusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan o2 yang terjadi di
membrane alveoli kapiler.
3.
Transfortasi : Proses penyebaran o2 ke seluruh tubuh.
4.
Perfusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan co2 yang terjadi di
kapiler.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi.
Kebutuhan tubuh
terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang
banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status
kesehatan.
1. Lingkungan
Pada lingkungan
yang panas tubuh berespon dengan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah
perifer, sehingga darah banyak mengalir ke kulit. Hal tersebut
mengakibatkan panas banyak dikeluarkan melalui kulit. Respon demikian
menyebabkan curah jantung meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat.
Sebaliknya pada lingkungan yang dingin, pembuluh darah mengalami konstriksi dan
penurunan tekanan darah sehingga menurunkan kerja jantung dan kebutuhan
oksigen.
Pengaruh
lingkungan terhadap oksigen juga ditentukan oleh ketinggian tempat. Pada tempat
tinggi tekanan barometer akan turun, sehingga tekana oksigen juga turun.
Implikasinya, apabila seseorang berada pada tempat yang tinggi, misalnya pada
ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut, maka tekanan oksigen alveoli
berkurang. Ini menindikasikan kandungan oksigen dalam paru-paru sedikit. Dengan
demikian, pada tempat yang tinggi kandungan oksigennya berkurang. Semakin
tinggi suatu tempat maka makin sedikit kandungan oksigennya, sehingga seseorang
yang berada pada tempat yang tinggi akan mengalami kekurangan oksigen.
Selain itu,
kadar oksigen di udara juga dipengaruhi oleh polusi udara. Udara yang dihirup
pada lingkungan yang mengalami polusi udara, konsentrasi oksigennya rendah. Hal
tersebut menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara
optimal. Respon tubuh terhadap lingkungan polusi udara diantaranya mata perih,
sakit kepala, pusing, batuk dan merasa tercekik.
2. Latihan
Latihan fisik atau peningkatan aktivitas dapat
meningkatkan denyut jantung dan respirasi rate sehingga kebutuhan terhadap
oksigen semakin tinggi.
3. Emosi
Takut, cemas,
dan marah akan mempercepat denyut jantung sehingga kebutuhan oksigen meningkat.
4. Gaya Hidup
Kebiasaan
merokok akan memengaruhi status oksigenasi seseorang sebab merokok dapat
memperburuk penyakit arteri koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang
terkandung dalam rokok dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer
dan pembuluh darah darah koroner. Akibatnya, suplai darah ke jaringan menurun.
5. Status Kesehatan
Pada orang
sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi berfungsi dengan baik
sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat. Sebaliknya,
orang yang mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernapasan dapat
mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.
Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap,
sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab.
Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.
5. Jenis pernafasan.
Berdasarkan
organ yang terlibat dalam peristiwa inspirasi dan
ekspirasi, orang sering menyebut pernapasan dada dan pernapasan perut.
Sebenarnya pernapasan dada dan pernapasan perut terjadi secara bersamaan. Untuk
lebih jelasnya perhatikan uraian berikut.
1.
Pernapasan dada
Pernapasan dada
adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat
dibedakan sebagai berikut.
1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot
antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga
dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya
oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau
kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya
tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di
dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara
dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
· Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut:
Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal) berkontraksi
–> tulang rusuk terangkat (posisi datar) –> Paru-paru mengembang –> tekanan
udara dalam paru-paru menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar –>
udara luar masuk ke paru-paru.
· Mekanisme ekspirasi pernapasan dada adalah sebagai
berikut:
Otot antar tulang rusuk relaksasi –> tulang rusuk menurun –>
paru-paru menyusut –> tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan
dengan tekanan udara luar –> udara keluar dari paru-paru.
2. Pernapasan
perut
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot
diafragma sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada
menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya
oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau
kembalinya otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang
rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam
rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam
rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
· Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
sekat rongga
dada (diafraghma) berkontraksi –> posisi dari melengkung menjadi mendatar
–> paru-paru mengembang –> tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil
dibandingkan tekanan udara luar –> udara masuk
· Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
otot diafraghma
relaksasi –> posisi dari mendatar kembali melengkung –> paru-paru
mengempis –> tekanan udara di paru-paru lebih besas dibandingkan tekanan
udara luar –> udara keluar dari paru-paru.
6. Pengukuran fungsi paru.
Tes fungsi paru
(PFTs) – seperti namanya – tes yang dirancang untuk mengukur dan menilai fungsi
paru-paru. PFTs awalnya alat-alat penelitian, yang tersedia hanya di
pusat-pusat rumah sakit pendidikan. Sekarang alat-alat ini tersedia secara luas
dan seringkali digunakan karena manfaatnya dalam diagnosis dan pengobatan asma.
Perlu diingat ketika Anda membaca hasil pemeriksaan pada tes PFT bahwa kelainan
fungsi paru yang terlihat pada asma aktif adalah reversibel.
Istilah PFTs
digunakan untuk menggambarkan secara kolektif beberapa tes khusus yang berbeda
dari fungsi paru-paru.
7. Masalah kebutuhan oksigen.
Masalah kebutuhan oksigen mengacu pada frekuensi,volume,irama,dan usaha
pernapasan.pola napas yang normal ditandai dengan pernapasan yang
tenang,berirama,tanpa usaha. Perubahan pola napas yng sering terjadi sebagai
berikut :
a. Hipoksia
Hipoksia merupakan
kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhanoksigen dalam tubuh akibat
defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen di sel, sehingga
dapat memunculkan tanda sepertikulit kebiruan (sianosis).
b. Perubahan Pola Pernapasan
1. Takipnea, merupakan pernapasan dengan frekuensi
lebih dari 24kali per menit. Proses ini terjadi karena paru-paru dalam
keadaanatelektaksis atau terjadi emboli.
2. Bradipnea, merupakan pola pernapasan yang lambat
abnormal, ±10 kali per menit. Pola ini dapat ditemukan dalam
keadaan peningkatan tekanan intracranial yang di sertai narkotik
atausedatif.
3. Hiperventilasi, merupakan cara tubuh
mengompensasimetabolisme tubuh yang melampau tinggi dengan pernapasan
lebihcepat dan dalam, sehingga terjadi peningkatan jumlah oksigendalam
paru-paru. Proses ini di tandai adanya peningkatan denyutnadi, napas pendek,
adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasiCO2
dan lain-lain.
4. Kussmaul, merupaka pola pernapasan cepat dan
dangkal yangdapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolic
5. Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk
mengeluarkankarbondioksida dengan cukup pada saat ventilasi alveolar,
sertatidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan oksigen.
6. Dispnea,
merupakan sesak dan berat saat pernapasan. Hal ini dapatdisebabkan oleh
perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja berat/berlebuhan, dan pengaruh psikis.
7. Ortopnea, merupakan kesulitan bernapas kecuali pada
posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang
yangmengalami kongesif paru-paru.
8. Cheyne stokes, merupakan siklus pernapasan yang
amplitudonyamula-mula nik kemudian menurun dan berhenti, lalu pernapasandimulai
lagi dari siklus baru. Periode apnea berulang secara teratur.
9. Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan dimana
dinding paru-paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal.
Sering ditemukan pada keadaan atelektasis.
10. Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip
dengancheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
11. Stridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi
karena penyempitan pada saluran pernapasan. Pada umumnya
ditmukan pada kasus spasme trachea atau obstruksi laring
c. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan
napas merupakan suatu kondisi pada induvidudengan pernapasan yang mengalami
ancaman, terkait denganketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dpat
disebabkan olehsecret yang kental atau berlebihan akibat penyakit
infeksi;immobilisasi; statis skreasi; serta batuk tidak efektif karena
penyakit persarafan seperti cerebro vascular accident (CVA), akibat
efek pengobatan sedative, dan lain-lain.Tanda klinis
1)Batuk tidak efektif atau todak ada
2)Tidak mampu mengelurakan secret di jalan napas
3)Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
4)Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan
tidak normal
d. Pertukaran gas
Pertukaran gas
merupakan suatu kondisi pada individu yangmengalami penurunan gas, baik oksigen
maupun karbondioksida, antar alveoli paru-paru dan system vascular. Hal
ini dapat disebabkan olehsecret yang kental atau immobilisasi akibat system
saraf; depresisusunan saraf pusat; atau penyakit radang pada paru-paru.
Terjadinyagangguan dalam pertukaran gas ini menunjukkan bahwa penurunankapasitas difusi dapat menyebabkan pengangkutan O2
dari paru-paruke jaringan terganggu, anemia dengan segala macam
bentuknya,keracunan CO2, dan terganggunya aliran darah. Penurunan
kapasitasdifusi tersebut antara lain disebabkan oleh menurunnya
luas permukaan difusi, menebalnya membrane alveolar kapiler, dan rasioventilasi perfusi yang tidak baik.Tanda
klinis :
1. Dispea pada usaha napas
2. Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
3. Agistasi
4. Lelah, alergi
5. Meningkatnya tahanan vascular paru-paru
6. Menurunnya saturasi oksigen dan meningkatnya
PaCO2
7. Sianosis
8. Tindakan keperawatan.
1. Latihan
Napas
Latihan
napas merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli
atau memelihara petukaran gas, mencegah atelektaksis , meningkatan efisiensi
batuk, dan dapat digunakan untuk mengurangi stres.
Prosedur Kerja
:
1). Cuci
tangan
2). Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
3). Atur
posisi ( duduk atau tidur terlentang )
4). Anjurkan
untuk mulai latihan dengan cara menarik napas dahulu melalui hidung dengan
mulut tertutup.
5). Kemudian
anjurkan untuk menahan napas selama 1 -1,5 detik dan di susun dengan
menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut mecucu atau seperti orang
meniup.
6). Catat
respons yang terjadi
7). Cuci
tangan
2. Latihan
Batuk Efektif
Latihan batuk
efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk
secara efektif dengan tujuan membersihkan laring , trakea, dan bronkiolus dari
sekret atau benda asing di jalan napas.
Prosedur kerja
:
1). Cuci
tangan
2). Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
3). Atur
posisi pasien dengan duduk di tepi tempat tidur membungkuk ke depan
4). Anjurkan
untuk menarik napas secara pelan dan dalam dengan menggunakan pernapasan
diafragma.
5). Setelah
itu tahan napas kurang lebih 2 detik
6). Batukkan
2 kali dengan mulut terbuka
7).
Tarik napas dengan ringan
8). Istirahat
9). Catat respons yang terjadi
10). Cuci
tangan.
3. Pemberian
oksigen
Pemberian
oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan oksigen kedalam paru
melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen.Pemberian
oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu melalui kanul , nasal, dan
masker dengan tujuan memenuhi kebutuhan oksigen oksigen dan mencegah terjadinya
hipoksia.
Alat dan Bahan
:
a) Tabung
oksigen lengkap dengan flowmeterdan humidifier
b) Nasal
kateter , kanula atau masker
c) Vaselin/
lubrikan atau pelumas (jelly)
Prosedur kerja:
1. Cuci
tangan
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
3. Cek
flowmeter dan humidifier
4. Hidupkan
tabung oksigen
5. Atur
posisi pasien semifowler atau sesuai dengan kondisi pasien
6. Berikan
oksigen melalui kanula atau masker
7. Apabila
menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga , setelah itu beri
lubrikan dan masukkan .
8. Catat
pemberian dan lakukan observasi.
9. Cuci
tangan.
4. Fisioterapi
Dada
Fisioterapi
dada merupakan tindakan keperawatan dengan melakukan postural drainage ,
clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sisitem permapasan dengan
tujuan meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan membersihkan jalan napas.
Alat dan Bahan
1. Pot
sputum berisi desinfektan
2. Kertas
tisu
3. 2
balok tempat tidur ( untuk postural drainage )
4. 1
bantal ( untuk postural drainage )
Prosedur kerja:
Postural
drainage
1. Cuci
tangan
2. Jelaskan
prosedur yang di lakukan
3. Miringkan
ke kiri (untuk membersihkan bagian paru kanan )
4. Miringkan
ke kanan ( untuk membersihkan bagian paru kiri )
5. Ke
kiri dan tubuh bagian belakang kanann disokong dengan satu bantal ( untuk
membersihkan bagian lobus tengah )
6. Lakukan
postural drainage kurang lebih 10 – 15 menit
7. Observasi
tanda vital selama prosedur
8. Setelah
pelaksanaan postural drainage dilakukan clopping , vibrating , dan suction.
9. Lakukan
hingga lendir bersih.
Clapping
1. Cuci
tangan.
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilaksanakan.
3. Atur
posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4. Lakukan clapping dengan
cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada
rangsangan batuk.
5. Bila
pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot
sputum.
6. Lakukan
hingga lendir bersih.
7. Catat
respons yang terjadi.
8. Cuci
tangan
Vibrating
1. Cuci
tangan.
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilaksanakan.
3. Atur
posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4. Lakukan vibrating dengan
cara anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan minta pasien untuk
mengeluarkan napas perlahan-lahan.
Kedua tangan
perawat diletakkan diatas bagian samping depan dari cekungan iga kemudian
getarkan secara berlahan-lahan dan lakukan berkali-kali hingga pasien ingin
membatukkan.
5. Bila
pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot
sputum.
6. Lakukan
hingga lendir bersih.
7. Catat
respons yang terjadi.
8. Cuci
tangan.
5. Penghisapan
Lendir
Penghisapan
lendir (suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang
tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara sendiri dengan melakukan
penghisapan (suction) untuk membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan
oksigenesi.
Alat dan Bahan
:
1. Alat
penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.
2. Kateter
penghisap lendir.
3. Pinset
steril.
4. Sarung
tangan steril.
5. Dua
buah kom berisi larutan aquades atau NaCl 0,9 % dan berisi larutan desinfektan.
6. Kassa
steril.
7. Kertas
tisu.
Prosedur Kerja
1. Cuci
tangan.
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilaksanakan.
3. Atur
posisi pasien dengan posisi terlentang dengan kepala miring kearah perawat.
4. Gunakan
sarung tangan.
5. Hubungkan
kateter penghisap dengan selang panghisap.
6. Hidupkan
mesin penghisap.
7. Lakukan
penghisapan lendir dengan memasukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi
aquades atau NaCl 0,9 % untuk mencegah trauma mukosa.
8. Masukkan
kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
9. Tarik
dengan memutar kateter penghisap sekitar dari 3-5 detik.
10. Bilas
kateter dengan aquades atau NaCl 0,9 %.
11. Lakukan
hingga lendir bersih.
12. Catat
respons yang terjadi.
13. Cuci
tangan


0 komentar:
Posting Komentar