Toleransi Masyarakat Jawa
. Kesenian
Suku Jawa
Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh
agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Cerita wayang
atau lakon sebagian besar
berdasarkan wiracerita Ramayana dan Mahabarata. Selain
pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia
Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan
dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai memegang peranan penting dalam kehidupan
budaya dan tradisi Jawa.
1. Kesenian jawa tengah
1. Kesenian jawa tengah
Wujud kesenian tipe jawa tengah bermacam-macam
misalnya sebagai berikut:
a. Seni Tari Contoh: Seni tari tipe jawa tengah adalah
tari serimpi dan tari bambang cakil, tari jaipong.
b. Seni Tembang berupa lagu-lagu daerah jawa, misalnya
lagu-lagu dolanan suwe ora jamu, gek kepiye dan pitik tukung.
c. Seni pewayangan merupakan wujud seni teater di jawa
tengah.
d. Seni teater tradisional wujud seni teater
tradisional di jawa tengah antara lain adalah ketoprak.
3. Rumah adat jawa
Rumah adat Jawa antara lain corak limasan dan
joglo.
4. Pakaian adat jawa
Pakaian pria jawa tengah adalah
penutup kepala yang di sebut kuluk, berbaju jas sikepan, korset dan kris yang
terselip di pinggang. Memakai kain batik dengan pola dan corak yang sama dengan
wanita. Wanitanya memakai kain kebaya panjang dengan batik sanggulnya disebut
bakor mengkurep yang diisi dengan daun pandan wangi.
Sistem Pengetahuan Suku Jawa
Salah satu bentuk sistem pengetahuan
yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan
atau kalender. Bentuk kalender Jawa adalah salah satu bentuk pengetahuan yang
maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena
penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan
bahkan sedikit budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat
ini, walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap
dalam menggambarkan penanggalan, karena didalamnya berpadu dua sistem
penanggalan, baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan
juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat
dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan
sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender
Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung,
raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menytebarkan agama islam di pulau
Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender
hijriah, namun angka tahun hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan.
Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun
saka, yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa juga
terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu nama bulan dalam kalender Jawa
matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama bulan dalam sistem kalender Jawa
komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar, mulud, bakdamulud, jumadilawal,
jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan dulkijah. Namun, pada tahun
1855 M, karena sistem penanggalan komariah dianggap tidak cocok dijadikan
patokan petani dalam menentukan masa bercocok tanam, maka Sri Paduka
Mangkunegaran IV mengesahkan sistem kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam
kalender matahari pun terdapat dua belas bulan.
Peralatan Hidup Masyarakat Suku Jawa
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa
tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang
paling menonjol adalah dalam segi bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal
di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam bangunan mereka, khususnya rumah
tinggal. Ada beberapa jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku
Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah
limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini
merupakan rumah yang dihuni oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo,
umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para
kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa
menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati
sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan
gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang, seiring dengan
perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok.
Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga
yang menggunakan genting. Dalam sektor pertanian, alat-alat pertanian
diantantaranya: bajak (luku), grosok, bakul besar tenggok, garu.
Perubahan/ Pemikiran Individu
Indonesia merupakan negara kepulauan
yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa,
adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya
yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan
negara yang kaya akan budaya. suku Jawa adalah penduduk asli pulau Jawa bagian
tengah dan timur, kecuali pulau Madura. Selain itu, mereka yang menggunakan
bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku
Jawa, meskipun tidak secara langsung berasal dari pulau Jawa. Secara
keseluruhan penduduk suku Jawa tersebar diberbagai penjuru nusantara, bahkan sampai
keluar negeri.
Secara umum suku Jawa memiliki mata
pencaharian yang dominan dibidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan
perikanan. Memiliki sistem kekerabatan yang jelas dan erat, bersosial baik, dan
bermasyarakat dengan rukun meski memiliki tingkatan stratifikasi sosial.
Dalam kepercayaan atau keagamaan dalam
suku Jawa, suku Jawa lebih bersifat universal dan memiliki toleransi yang
tinggi, yaitu tidak menekan kepada masyarakatnya untuk memeluk agama tertentu,
meski masyarakat diwajibkan memeluk salah satu agama.
Suku Jawa memiliki banyak kesenian
yang beranekaragam diantaranya adalah seni tari, seni tembang, seni pewayangan,
seni teater tradisional dan lai sebagainya. Kesenian-kesenian tersebut telah
menjadi budaya yang sangat beranekargam, budaya Jawa merupakan salah satu
faktor utama berdirinya kebudayaan nasional, maka segala sesuatu yang terjadi
pada budaya daerah akan sangat mempengaruhi budaya nasional.


0 komentar:
Posting Komentar